Selasa, 07 Agustus 2012

CABANG-CABANG EOGRAFI




A. Menurut Huntington, geografi terbagi empat cabang, yaitu:
1. Geografi Fisik yang mempelajari faktor fisik alam
2. Pitogeografi yang mempelajari tanaman
3. Zoogeografi yang mempelajarai hewan
4. Antropogeografi yang mempelajari manusia.

B. Menurut Muller dan Rinner, cabang-cabang geografi terdiri atas:
1. Geografi Fisik yang terdari atas geografi matematika, geografi tanah dan hidrologi, klimatologi, geografi mineral dan sumberdaya, geografi tanaman, dan geografi tata guna lahan
2. Geografi Manusia meliputi geografi budaya (geografi penduduk, geografi sosial, dan geografi kota), Geografi ekonomi (geografi pertanian, geografi transportasi dan komunikasi) geografi politik
3. Geografi regional

C. Menurut Hagget, cabang geografi dapat diuraikan sebagai berikut.
1. Geografi fisik
Geografi fisik merupakan cabang geografi yang mempelajari gejala fisik di permukaan bumi. Gejala fisik itu terdiri atas tanah, air, udara dengan segala prosesnya. Bidang kajian dalam geografi fisik adalah gejala alamiah di permukaan bumi yang menjadi lingkungan hidup manusia. Oleh karena itu keberadaan cabang ilmu ini tidak dapat dipisahkan dengan mansuia.
2. Geografi Manusia
Geografi manusia merupakan cabang geografi yang obyek kajiannya keruangan manusia. Aspek-aspek yang dikaji dalam cabang ini termaasuk kependudukan, aktivitas manusia yang meliputi aktivitas ekonomi, aktivitas politik, aktivitas sosial dan aktivitas budayanya. Dalam melakukan studi aspek kemanusiaan, geografi manusia terbagi dalam cabang-cabang geografi penduduk, geografi ekonomi, geografi politik, geografi permukiman dan geografi sosial.
Geografi penduduk merupakan cabang geografi manusia yang obyek studinya keruangan penduduk. Obyek studi ini meliputi penyebaran, densitas, perbandingan jenis kelamin penduduk dari suatu wilayah.

2a. Geografi Ekonomi merupakan cabang geografi manusia yang bidang kajiannya berupa struktur keruangan aktivitas ekonomi. Titik berat kajiannya pada aspek keruangan struktur ekonomi masyarakat, termasuk bidang pertanian, industri, perdagangan, transportasi, komunikasi, jasa, dan sebagainya. Dalam analisisnya, faktor lingkungan alam ditinjau sebagai faktor pendukung dan penghambat struktur aktivitas ekonomi penduduk. Geografi ekonomi mencakup geografi pertanian, geografi industri, geografi perdagangan, geografi transportasi dan komunikasi.
2b. Geografi Politik merupakan cabang geografi manusia yang bidang kajiannya adalah aspek keruangan pemerintahan atau kenegaraan yang meliputi hubungan regional dan internasional, pemerintahan atau kenegaraan dipermukaan bumi. Dalam geografi politik, lingkungan geografi dijadikan sebagain dasar perkembangan dan hubungan kenegaraan. Bidang kajian geografi politik relatif luas, seperti aspek keruangan, aspek politik, aspek hubungan regional, dan internasional.
2c. Geografi permukiman adalah cabang geografi yang obyek studinya berkaitan dengan perkembangan permukimam di suatu wilayah permukaan bumi. Aspek yang dibahas adalah kapan suatu wilayah dihuni manusia, bagaimana bentuk permukimannya, faktor apa yang mempengaruhi perkembangan dan pola permukiman.
2d. Geografi Regional merupakan diskripsi yang menyeluruh antara aspek manusia dan aspek alam (lingkungan). Fokus kajiannya adalah interelasi, interaksi dan integrasi antara aspek alam dan manusia dalam suatu ruang tertentu.

materi referensi:

contoh konsep Esensial dalam geografi



Konsep adalah pengertian-pengertian yang menunjuk pada sesuatu. Konsep essensial suatu bidang ilmu merupakan pengertian-pengertian untuk mengungkapkan atau menggambarkan corak abstrak fenomena essensial dari obyek material bidang kajian suatu ilmu. Oleh karena itu konsep dasar merupakan elemen penting dalam memahami fenomena yang terjadi.

1. Konsep Lokasi

Terdapat dua pengertian lokasi yaitu lokasi absolut dan lokasi relatif. Yang dimaksud dengan lokasi absolut adalah lokasi yang berhubungan dengan posisi menurut koordinat garis lintang dan garis bujur. Contoh : Indonesia terletak diantara 60 LU-110 LU dan diantara 950 BT-1410 BT.

Sedangkan yang dimaksud dengan lokasi relatif adalah lokasi berdasarkan lingkungan sekitarnya. Contoh : Indonesia terletak antara Benua Asia dan Australia.

2. Konsep Jarak

Dalam kehidupan sosial ekonomi, jarak memiliki arti penting. Dalam geografi jarak dapat diukur dengan dua cara, yaitu jarak geometrik dinyatakan dalam satuan panjang kilometer dan jarak waktu yang diukur dengan satuan waktu(jarak tempuh).

3. Konsep Keterjangkauan/Accessibility

Sulit atau mudahnya suatu lokasi untuk dapat dijangkau dipengaruhi oleh lokasi, jarak dan kondisi tempat. Misalnya, suatu daerah pedalaman yang hanya terdapat jalan setapak tentu merupakan daerah yang sulit dapat dijangkau.

4. Konsep Pola

Pola merupakan tatanan geometris yang beraturan. Contoh, penerapan konsep pola adalah pola permukiman penduduk yang memanjang mengikuti jalan raya atau sungai.

5. Konsep Geomorfologi

Yang dimaksud geomorfologi adalah ilmu yang mempelajari tentang bentuk permukaan bumi. Ilmu geografi tidak terlepas dari bentuk-bentuk permukaan bumi, seperti pegunungan, perbukitan, lembah dan dataran. Hal inilah yang menyebabkan permukaan bumi merupakan obyek studi geografi.

6. Konsep Aglomerasi

Aglomerasi merupakan kecenderungan pengelompokan suatu gejala yang terkait dengan aktivitas manusia. Misalnya pengelompokan kawasan industri, pusat perdagangan dan daerah pemukiman.

7. Konsep Perbedaaan Wilayah

Terdapat perbedaan antara wilayah satu dengan wilayah lain. Perbedaan ini kemudian menimbulkan suatu hubungan atau interaksi suatu wilayah dengan wilayah lainnya.

8. Konsep Nilai Kegunaan

Nilai kegunaan suatu sumber bersifat relatif.

Misalnya pantai mempunyai nilai kegunaan yang tinggi sebagai tempat rekreasi bagi warga kota yang selalu hidup dalam keramaian, kebisingan dan kesibukan.

9. Konsep Interaksi

Interaksi merupakan terjadinya hubungan yang saling mempengaruhi antara suatu gejala dengan gejala lainnya. Contohnya adalah perbedaan kondisi antara daerah pedesaan dan perkotaan yang kemudian dapat menimbulkan suatu kegiatan interaksi seperti halnya penyaluran kebutuhan pangan, arus urbanisasi maupun alih tehnologi.

10. Konsep Keterkaitan Keruangan
Keterkaitan antara suatu fenomena dengan fenomena lainnya merupakan suatu keterkaitan keruangan. Misalnya hubungan antara kemiringan lereng di suatu wilayah dengan ketebalan lapisan tanah serta hubungan antara daerah kapur dengan kesulitan air.

Ilmu Bantu dan Sarana Bantu Geografi





Dua aspek pokok geografi, yaitu aspek fisik dan aspek sosial dipelajari oleh ilmu-ilmu yang menjadi ilmu penunjang geografi. Ilmu penunjang geografi sangat diperlukan mengingat luasnya bahasan dalam geografi. Ilmu penunjang geografi tersebut antara lain sebagai berikut.
Geologi, yaitu ilmu yang mempelajari lapisan batuan penyusun bumi.
Geomorfologi, yaitu ilmu yang mempelajari bentuk permukaan bumi dan proses terbentuknya.
Pedologi, yaitu ilmu yang mempelajari tentang lapisan tanah, antara lain tentang proses pembentukan dan jenis-jenisnya.
Meteorologi, yaitu ilmu yang mempelajari lapisan atmosfer, antar lain tentang ciri-ciri fisik dan kimianya, tekanan, suhu udara, angin, dan per-awanan.
Klimatologi, yaitu ilmu yang mempelajari tentang iklim.
Antropogeografi, yaitu ilmu yang mempelajari tentang persebaran manusia di permukaan bumi dalam hubungannya dengan lingkungan geografi.
Demografi, yaitu ilmu yang mempelajari tentang kependudukan, antara lain hubungannya dengan jumlah dan pertum-buhan, komposisi, srta migrasi penduduk.
Hidrologi, yaitu ilmu yang mempelajari tentang lapisan air di permukaan bumi, di bawah tanah, dan di atmosfer.
Oseanografi, yaitu ilmu yang mempelajari lautan, antara lain tentang sifat air laut dan gerakan air laut.
Biogeografi, yaitu ilmu yang mempelajari tentang persebaran hewan dan tumbuhan di permukaan bumi serta faktor-faktor yang mempengaruhi, membatasi, dan menentukan pola persebarannya.
Untuk mempermudah dalam mempelajari geografi diperlukan sarana bantu, antara lain tabel, diagram, grafik, dan peta. Sarana bantu tersebut digunakan untuk melihat secara tidak langsung atas gejala fisik dan sosial, persebaran, hubungan, serta susunan keruangannya.

Tabel- Tabel menjadi sarana bantu geografi karena memuat data, baik berupa kata, kalimat, ataupun angka tentang fenomena di permukaan bumi. Data tersebut disusun secara bersistem (sistematis), yaitu urut ke bawah atau ke samping dalam lajur dan deret tertentu dan diberi garis pembatas sehingga mudah untuk disimak.
Informasi yang disusun dalam tabel disesuaikan dengan tema atau topik yang disampaikan, contohnya berikut ini.
Tabel Luas Daerah dan Pembagian Daerah Administrasi di Indonesia Tahun 2000
Tabel Kelembapan Udara Rata-Rata Menurut Provinsi di Indonesia Tahun 2000
Tabel Penduduk dan Laju Pertumbuhan Penduduk Menurut Provinsi di Indonesia Tahun 2000
Tabel Rumah Sakit dan Kapasitas Tempat Tidur Menurut Provinsi di Indonesia Tahun 2000
Tabel Produksi Jagung Menurut Provinsi di Indonesia Tahun 2000
Diagram- Diagram termasuk sarana bantu geografi yang digunakan untuk menjelaskan fenomena geosfer dengan melukiskan bagian-bagiannya dan cara kerjanya secara berurutan, biasa disebut dengan diagram arus.

Grafik- Grafik termasuk sarana bantu geografi yang menunjukkan naik dan turun atau pasang surut suatu gejala atau fenomena tertentu antarwaktu dengan menggunakan garis. Sebagai contoh adalah grafik tentang pertumbuhan penduduk dari tahun 1990 sampai dengan tahun 2000.

Peta- Peta termasuk sarana bantu geografi karena memuat bermacam-macam data dari permukaan bumi yang dapat diinformasikan. Untuk memudahkan penyampaian informasi, peta dibuat dengan ukuran, tema, dan topik tertentu, antara lain sebagai berikut.
Peta Kepadatan Penduduk Menurut Provinsi di Indonesia Tahun 2000
Peta Transportasi Laut di Indonesia
Peta Jenis Tanah di Indonesia
Peta Geologi di Indonesia
Peta Objek Wisata di Indonesia 
Ilmu Penunjang Geografi
Mengingat bahwa di dalam objek materialnya begitu luas, maka seorang geografer harus memahami pula ilmu-ilmu lain yang berfungsi sebagai penunjang geografi yaitu antara lain:
a.Geologi, adalah ilmu yang mempelajari perubahan bentuk permukaan bumi akibat tenaga dari dalam bumi (endogen: vulkanisme, tektonisme, gempa bumi), termasuk struktur, komposisi dan sejarahnya. Dalam kehidupan sehari-hari Geologi bermanfaat dalam bidang pertambangan. Untuk mencari bahan tambang diperlukan pengetahuan formasi dan umur dari batu-batuan.
b.Geomorfologi, adalah ilmu yang mempelajari tentang bentuk-bentuk muka bumi serta perubahannya akibat tenaga dari luar (Exogen: pelapukan, erosi, sedimentasi). Bahan-bahan galian yang berasal dari endapan dapat diketahui berdasarkan sejarah geomorfologinya atau sebaliknya. Contoh bahan endapan: pasir, tanah liat, dsb.
c.Meteorologi, adalah ilmu yang mempelajari atmosfer, yaitu tentang udara, cuaca, suhu, angin, awan, curah hujan, radiasi matahari, dan sebagainya. Meteorologi sangat penting bagi informasi cuaca terutama untuk penerbangan, pelayaran, pertanian dan industri.
d.Hidrologi, adalah ilmu yang mempelajari tentang air di permukaan bumi/tanah, di bawah tanah; termasuk sungai, danau, mata air, air tanah dan rawa-rawa. Dalam kehidupan sehari-hari penting untuk mengetahui lapisan yang mengandung cadangan air yang cukup misalnya untuk industri dan peternakan.
e.Klimatologi, adalah ilmu yang mempelajari tentang iklim dan kondisi rata-rata cuaca. Untuk pertanian dan industri atau keperluan yang lain, mengetahui sifat iklim dan cuaca setempat sangat penting. Contoh untuk mendirikan pabrik kerupuk tentu bukan di daerah yang curah hujannya tinggi.
f.Antropologi, adalah ilmu yang mempelajari tentang manusia khususnya mengenai ciri, warna kulit, bentuk fisik, masyarakat dan kebudayaannya. Adatistiadat penduduk perlu diketahui untuk mengetahui kebiasaan sehari-hari, barang yang diperlukan, bahan makanan yang dikonsumsi, dsb.
g.Ekonomi, adalah ilmu yang mempelajari usaha manusia dalam memenuhi kebutuhannya. Untuk melestarikan usaha perlu diketahui antara lain bagaimana memperoleh untung, menjual barang, menentukan “nilai” barang, memilih tempat berjualan, dsb.
h.Demografi, adalah ilmu yang mempelajari dan menguraikan tentang penduduk. Komposisi penduduk, jumlah penduduk dan sebagainya perlu diketahui untuk menentukan pola konsumsi penduduk terhadap barang tertentu.

Ilmu-ilmu Pendukung Geografi
Untuk dapat menemukan kegiatan studi, geografi didukukung oleh sejumlah ilmu.Dalam lingkup kajian fisik, geografi didukung oleh beberapa displin ilmu sebagai berikut:
1.    Geologi, yaitu ilmu yang mendukung studi geografi dalam menjelaskan bagaimana bumi terbentuk dan bagaimana bumi terbentuk dari waktu kewaktu. Geologi berkaitan dengan komposisi, sejarah pembentukan, struktur bumi, termasuk pembentukan-pembentukan masa lalu yang pernah muncul di planet bumi.
2.    Geomorfologi, yaitu ilmu yang secara khusus mengkaji bentuk lahan (landform) yang membentuk konfigurasi  permukaan bumi dan menekankan cara terjadi dan perkembangan serta konteks kelingkunganya.
3.    Oseanografi, yaitu ilmu pengetahuan dan studi eksplorasi mengenai lautan serta semua aspek yang terdapat di dalamnya. Studi tersebut antara lain mengenai sedimen dan batuan yang membentuk dasar laut ,interaksi antara laut dan atmosfera, pergerakan air laut, serta tenaga yang menyebabkan adanya gerakan tersebut, baik tenaga yang berasal dari dalam maupun berasal dari luar.
4.    Hidrologi, yaitu ilmu yang berhubungan dengan air di bumi, terjadinya, sirkulasinya dan sebarannya, sifat kimia dan fisiknya, dan reaksi terhadap lingkungan, termasuk kaitanya dengan makhluk hidup.
5.    Meteorologi dan Klimatologi yaitu ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan mebicarakan berbagai peristiwa dalam udara. Meteorologi mengkaji keadaan cuaca, yaitu keadaan atmosfer dalam suatu tempat dalam waktu terbatas. Adapun klimatologi, yaitu ilmu pengetahuan yang mengkaji peristiwa-peristiwa atau gejala-gejala cuaca yang bersifat umum, dan jangka waktu yang relatif lama dan daerah yang dikaji relatif luas.
6.    Biogeografi, yaitu ilmu yang mempelajari persebaran organisme dalam ruang dan waktu, serta factor-faktor yang mempengaruhi, membatasi, atau menentukan pola persebaran jenis. Biogeografi menguraikan keadaan lingkungan fisik, biologi, evolusi, dan jenis makhluk hidup, yang satu sama lain saling berinteraksi, dan menyebar seperti sekarang ini.
7.    Ilmu tanah. Secara umum ilmu tanah merupakan ilmu yang mempelajari hal atau sifat-sifat tanah. Ilmu ini dapat dibagi menjadi 2 kelompok utama, yaitu Pedologi dan Edaphologi. Pedologi ialah ilmu tanah yang mempelajari tanah sebagai suatu bagian dari dalam dan berada di kulit bumi, yang menekankan hubungan antara tanah itu sendiri dan faktor-faktor pembentuknya. Edaphologi adalah ilmu tanah yang mempelajari tanah sebagai alat produksi pertanian, yang menekankan hubungan antara tanah dan tanaman. Ilmu ini erat hubunganya dengan cabang-cabang ilmu agronomi seperti fisiologi, biokimia, dan pertanian.
8.    Astronomi. Mengkaji benda-benda langit di luar atmosfer bumi, seperti matahari, bulan,  bintang, planet, dll
9.    Geokemistri. Mengkaji komposisi kimiawi kulit bumi dan perubahan-perubahan yang berlangsung di dalamnya.

Dalam lingkup kajian Manusia, geografi didukung oleh beberapa ilmu antara lain:
1.    Demografi (Geografi Penduduk). yang mempelajari /mengkaji tentang penduduk, seperti kelahiran, kematian, migrasi.
2.    Ekonomi (Geografi ekonomi). Mengkaji tentang usaha-usaha manusia untuk mencapai kemakmuran serta gejala-gejalanya dan hubungan timbal balik dari usaha tersebut. Geografi ekonomi membahas bagaimana manusia mengeksploitasi sumber daya alam, menghasilkan barang-barang konsumsi, persebaran kegiatan produksi, dan interaksi wilayah.
3.    Sosiologi(Geografi Sosial). Mengkaji sruktur proses-proses sosial. termasuk perubahan sosial . Geografi sosial membahas lingkungan manusia yang di dalamnya termasuk proses, struktur, dan perubahan sosial sehingga memiliki kesamaan  dan perbedaan dengan wilayah lain dalam konteks keruangan.
4.    Antropologi( Antropogeografi dan Geografi Budaya).  Mengkaji tentang manusia, baik fisik maupun kebudayaannya. Geografi Budaya mengkaji proses-proses kebudayaan sehuhubungan dengan konteks spasial, karena kebudayaan yang terdapat di bumi merupakan karakteristik dari suatu wilayah.
5.    Geografi Desa dan Geografi Kota. Mengkaji tentang ciri, pola, struktur, lingkungan, dan interaksi keruangan dari penduduk desa dan penduduk kota.
6.    Geografi politik. Mengkaji kondisi-kondisi geografis ditinjau dari sudut pandang politik atau kepentingan negara.
7.    Paleontologi. Mengkaji tentang fosil-fosil serta bentuk-bentuk kehidupan dimasa purba.
8.    Geografi regional. Mengkaji suatu kawasan tertentu secara khusus, misalnya Asia Tenggara,  Eropa Barat, Timur Tengah

Selain kajian fisik dan kajian manusia ,sekarang  ini telah berkembang cabang geografi teknik dan ilmu pendukungnya antara lain:
1.    Kartografi adalah ilmu dan seni yang menggambarkan permukaan bumi pada bidang datar dengan menyajikan data hasil pengukuran dan pengumpulan data gejala permukaan bumi yang telah dilakukan oleh surveyor, geograf, dan kartograf sehingga informasi pada peta mudah dibaca, dimengerti, dan ditafsirkan sesuai dengan maksud dan tujuannya.
2.    Penginderaan Jauh( Remote Sensing) adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi mengenai obyek, daerah, atau gejala dengan jalan menganalisis data yang diperoleh dengan menggunakan alat tanpa kontak langsung terhadp obyek, daerah, atau gejala yang dikaji.
3.    Sistem Informasi Geografi ( SIG) adalah teknik geografi untuk menyajikan overlay sejumlah peta tematik sehingga menghasilkan informasi baru dalam setiap produk analisisnya
4.    Geofisika. Mengkaji sifat-sifat bumi bagian dalam dengan metode teknik fisika, seperti mengukur gempa bumi, gravitasi, dan medan magnet.         


10 KONSEP ESENSIAL YANG DIPELAJARI DALAM GEOGRAFI



10 konsep geografi , 10 konsep esensial geografi , konsep konsep geografi , geografi kelas 10 sma

1. Konsep Lokasi
Konsep lokasi menjadi ciri khusus ilmu pengetahuan geografi. Secara pokok,
konsep lokasi dibedakan menjadi dua, sebagai berikut.
a. Lokasi Absolut
Lokasi ini menunjukkan letak yang tetap terhadap sistem grid atau koordinat.
Untuk menentukan lokasi ini, harus menggunakan letak secara astronomis,
yaitu berdasarkan garis lintang dan garis bujur. Letak absolut bersifat tetap dan
tidak berubah. Contohnya adalah suatu titik berlokasi pada 3 °LS dan 130 °BT
terdapat di Papua. Selama standar penghitungan astronomis masih digunakan,
maka titik lokasi tersebut tidak akan berubah.Dasar-Dasar Ilmu Geografi 11
b. Lokasi Relatif
Lokasi relatif sering disebut de-
ngan letak geografis. Lokasi relatif si-
fatnya berubah-ubah dan sangat ber-
kaitan dengan keadaan sekitarnya.
Contohnya adalah suatu daerah yang
terpencil dan sangat jarang pen-
duduknya, tetapi setelah bertahun-
tahun ternyata di daerah itu kaya akan
tambang, sehingga menyebabkan
daerah tersebut menjadi ramai pen-
duduk.
2. Konsep Jarak
Jarak berkaitan erat dengan lokasi, dan dinyatakan dengan ukuran jarak
lurus di udara yang mudah diukur pada peta. Jarak dapat juga dinyatakan sebagai
jarak tempuh, baik yang berkaitan dengan waktu perjalanan yang diperlukan
maupun dengan satuan biaya angkutan. Jarak sebagai pemisah antara dua
tempat bisa berubah sesuai dengan perkembangan zaman.
Jarak pada hakikatnya adalah pemisah antarwilayah atau tempat, tetapi
pengertian pemisah sekarang ini berubah sejalan dengan kemajuan-kemajuan
antara lain di bidang teknologi (khususnya sarana transportasi) dan komunikasi.
Dengan berbagai teknologi transportasi (pesawat terbang dan kereta api express)
dan teknologi komunikasi mutakhir (telepon seluler, mesin faksimili, dan internet)
orang dapat dengan mudah dan cepat dalam berhubungan dengan orang lain,
sehingga dewasa ini jarak bukan merupakan suatu faktor pemisah atau
penghambat dalam kehidupan manusia.

3. Konsep Keterjangkauan
Keterjangkauan tidak selalu berhubungan dengan jarak. Keterjangkauan lebih
berhubungan dengan kondisi medan yang berkaitan dengan sarana angkutan
dan transportasi yang digunakan. Suatu tempat yang tidak memiliki jaringan
transportasi dan komunikasi yang memadai maka dapat dikatakan daerah tersebut
terisolasi atau terpencil. Ada beberapa penyebab suatu daerah mempunyai
aksesibilitas atau keterjangkauan yang rendah, di antaranya kondisi topografi daerah
tersebut yang bergunung, berhutan lebat, rawa-rawa, atau berupa gurun pasir.
Keterjangkauan atau aksesibilitas
suatu daerah yang masih rendah lama-
kelamaan akan berubah menjadi lebih
baik seiring dengan perkembangan
kema-juan perekonomian dan teknologi.
Sebagai contoh kondisi fisik di wilayah
Pulau Jawa yang relatif datar mempunyai
aksesibilitas yang tinggi, dibandingkan
dengan Pulau Irian (Papua) yang
aksesibilitasnya rendah karena wila-
yahnya berupa pegunungan dengan
lerengnya yang terjal.

4. Konsep Morfologi
Morfologi merupakan perwujudan bentuk daratan muka bumi sebagai hasil
pengangkatan atau penurunan wilayah seperti erosi dan pengendapan atau sed-
imentasi. Melihat peristiwa tersebut ada wilayah yang berbentuk pulau, pegu-
nungan, dataran, lereng, lembah, dan dataran aluvial. Morfologi dataran adalah
perwujudan wilayah yang biasanya digunakan manusia sebagai tempat bermukim,
untuk usaha pertanian, dan perekonomian. Pada umumnya, penduduk terpusat
pada daerah-daerah lembah sungai besar dan tanah datar yang subur. Wilayah
pegunungan dengan lereng terjal sangat jarang digunakan sebagai permukiman.

5. Konsep Aglomerasi
Aglomerasi atau pemusatan adalah kecenderungan persebaran penduduk
yang bersifat mengelompok pada suatu wilayah yang relatif sempit dan bersifat
menguntungkan, karena kesamaan gejala ataupun faktor-faktor umum yang
menguntungkan. Penduduk di perkotaan cenderung tinggal secara mengelompok
pada tingkat sosial yang sejenis seperti permukiman elit atau mewah, permukiman
khusus pedagang, kompleks peru-
mahan pegawai negeri, atau per-
mukiman kumuh. Di daerah pe-
desaan, pada umumnya penduduk
mengelompok di daerah dataran yang
subur.
Salah satu keuntungan yang
didapat dengan adanya aglomerasi
(pemusatan) penduduk dengan
tingkat kepadatan yang tinggi adalah
dimungkinkannya suatu sistem
ekonomi yang memanfaatkan jumlah
penduduk yang besar sebagai dae-
rah pemasaran atau pelayanan, na-
mun meliputi wilayah yang sempit.
Dari sini dimungkinkan suatu efisien-
si yang tinggi dalam produksi pe-
ngangkutan barang maupun pe-
ngadaan sarana pelayanan umum.

6. Konsep Nilai Kegunaan
Nilai kegunaan suatu fenomena
di muka bumi bersifat relatif, artinya
nilai kegunaan itu tidak sama, tergan-
tung dari kebutuhan penduduk yang
bersangkutan. Misalnya, penduduk
yang tinggal di daerah pegunungan,
mereka menganggap daerah pegu-
nungan tidak memiliki nilai ke-
gunaan karena mereka berorientasi
pada sumber-sumber pertanian di dae-
rah dataran subur di bagian bawah (kaki
gunung). Sebaliknya, penduduk kota
menganggap pegunungan memiliki nilai kegunaan yang tinggi untuk rekreasi,
karena suasana alami pegunungan dapat menghilangkan penat akan hiruk pikuk
suasana perkotaan.

7. Konsep Pola
Geografi mempelajari pola-pola, bentuk, dan persebaran fenomena di
permukaan bumi. Geografi juga berusaha memahami makna dari pola-pola
tersebut serta berusaha untuk memanfaatkannya. Pola berkaitan dengan susunan,
bentuk, dan persebaran fenomena dalam ruang muka bumi. Fenomena yang
dipelajari adalah fenomena alami dan fenomena sosial. Fenomena alami seperti
aliran sungai, persebaran vegetasi, jenis tanah, dan curah hujan. Fenomena sosial
misalnya, persebaran penduduk, mata pencaharian, permukiman, dan lain-lain.
Contoh Penerapan konsep pola di kawasan perkotaan yaitu, manusia membangun
kawasan permukiman dengan pola sedemikain rupa agar memudahkan
masyarakat mencapai tempat kerja, sekolah, pasar, sehingga mudah menciptakan
kehidupan sehari-hari yang nyaman dan sejahtera.

8. Konsep Deferensiasi Areal
Wilayah pada hakikatnya adalah suatu perpaduan antara berbagai unsur, baik
unsur lingkungan alam ataupun kehidupan. Hasil perpaduan ini akan menghasilkan
ciri khas bagi suatu wilayah (region). Misalnya, wilayah pedesaan dengan corak
khas area persawahan sangat berbeda dengan wilayah perkotaan yang terdiri
atas area permukiman, pusat-pusat perdagangan dan terkonsentrasinya berbagai
utilitas kehidupan.
Wilayah pedesaan dan perkotaan ini secara bersama-sama dan terus-menerus
mengalami perubahan dari waktu ke waktu (bersifat dinamis). Deferensiasai areal
juga berakibat terjadinya interaksi penduduk antarwilayah, misalnya mobilisasi penduduk
(transmigrasi, urbanisasi, imigrasi dan emigrasi), dan pertukaran barang dan jasa.

9. Konsep Interaksi/ Interdependensi
Interaksi adalah kegiatan saling me-
mengaruhi daya, objek, atau tempat yang
satu dengan tempat lainnya. Setiap tem-
pat mengembangkan potensi sumber
daya alamnya dan kebutuhan yang tidak
selalu sama dengan tempat lain. Perbe-
daan tersebut mengakibatkan terjadinya
interaksi dan interdependensi antar-
wilayah. Interaksi antara daerah pedesaan
dan perkotaan sangat penting peranannya
untuk pemenuhan kebutuhan hidup di
antara keduanya. Bentuk interaksi terse-
but misalnya proses pengangkutan hasil pertanian dari desa ke kota, dan pros-
es pengangkutan mesin pertanian dari kota ke desa. Interaksi juga terjadi antara
kota yang satu dengan kota yang lain baik dalam bentuk pertukaran barang dan
jasa, maupun perpindahan penduduk. Interaksi keruangan terjadi antara unsur
atau fenomena setempat dengan fenomena alam ataupun kehidupan.

10. Konsep Keterkaitan Keruangan
Keterkaitan keruangan atau asosiasi keruangan adalah derajat keterkaitan
persebaran suatu fenomena dengan fenomena lain di suatu tempat atau ruang.
Fenomena yang dimaksud adalah fenomena alam dan fenomena kehidupan
sosial. Contohnya adalah keterkaitan antara tingkat erosi dengan kesuburan
tanah. Semakin besar tingkat erosi maka kesuburan tanah semakin berkurang.

Kamis, 26 Juli 2012

SOSIOLOGI SEBAGAI ILMU























SOSIOLOGI SEBAGAI ILMU: menyatukan pecahan-pecahan sosiologis
Ada 5 orang buta yang memperoleh kesempatan untuk berkunjung ke kebun binatang di mana mereka dapat berinteraksi dengan gajah, maklum mereka buta sejak dini dan tidak tahu bagaimana bentuk gajah tersebut. Yang satu memegangi ekornya, dan berujar, "aha... gajah itu berbentuk tipis dan panjang", yang memegangi kakinya berteriak, "wah, gajah itu kokoh, besar, berbentuk lonjong dan tegak!", yang memegang telinganya berkata, "...gajah itu berbentuk tipis", yang memegang belalainya berkata, "gajah itu panjang, agak lonjong dan melayang!", sementara yang sempat menaiki punggung gajah berkata, "wah, gajah itu besar sekali dan kita bisa menaikinya!". Semua memegang gajah, namun dengan tak adanya referensi bagaimana bentuk gajah, maka semua yakin dengan apa yang dipegangnya. Bagaimana cara agar semua orang buta tersebut mengetahui bentuk gajah yang sesungguhnya?
Berdasarkan sejarah, sosiologi memang ilmu yang muncul dari berbagai spekulasi tentang masyarakat, individu, interaksi sosial, struktur sosial, dan bagaimana struktur sosial tersebut bertahan seurut dengan waktu. Namun seiring dengan perkembangan waktu dan evolusi sains dalam peradaban manusia, maka berbagai pendekatan empirik mulai dilakukan. Asumsi tak cukup lagi hanya disandarkan pada akal sehat teoretisi, namun harus berlandaskan pada pengamatan dan jika mungkin ada pengukuran tentang hal tersebut, ada pengetatan-pengetatan dilakukan agar sosiologi tak terjebak ke perdebatan definitif, perdebatan debat kusir yang senantiasa tidak memajukan PEMAHAMAN kita akan masyarakat.
Secara sepintas, terlihat dengan jelas bahwa terdapat perbedaan-perbedaan yang sangat besar di antara teori-teori sosial yang ada. Misalnya, yang mendasarkan perhatian pada struktur sosial akan berangkat dengan memperhatikan masyarakat condong kepada fungsionalisme, sementara di sisi lain yang berfokus pada dinamika masyarakat dan perubahan sosial akan cenderung untuk melihatnya dengan landasan konflik; bahkan melihat pola kerja sama individual atau antar kelompok dalam bentuk konflik pula, dan yang fokus pada bagaimana individu dalam membentuk struktur sistem sosial dan sebaliknya sistem sosial mempengaruhi perilaku individu melihatnya dengan kecondongan pada interaksionisme. Demikian seterusnya, dan seiring dengan perkembangan waktu dan spesialisasi obyek sosial yang hendak didekati, maka teori sosial akan cenderung terus bertambah.
 























LEIGH TESFATSION,Agent-Based Computational Economics: Growing Economics from the Bottom-Up, Working Paper ISU Economics 1, Iowa State University, 2002.

R. A. HANNEMAN, RANDALL COLLINS, GABRIELE MORDT, "Discovering Theory Dynamics by Computer Simulations: Experiments on State Legitimacy and Imperialist Capitalism", Sociological Methodology 25:1-46, 1995.

N. GILBERT, K. G. TROITZSCH, Simulation for the Social Scientist, The Open University Press, 1998.
SOSIOLOGI SEBAGAI ILMU: proses sosial dan model sosialSebagaimana dalam perkembangan ilmu alam, ilmu sosial juga berusaha untuk mensinergikan antara apa yang diamati di lapangan penelitian dan konstruksi teori sosial tentang hal yang hendak diteliti. Statistika adalah ilmu yang paling sering digunakan untuk melakukan berbagai hal yang mungkin diukur dalam sistem sosial. Cara untuk membandingkan konstruksi teori sosial tersebut dengan apa yang diperoleh di lapangan adalah dengan membangunmodel. Pada dasarnya konstruksi teori sosial dapat secara sederhana disebut sebagai model dari proses sosial yang diamati.
Namun memodelkan sebuah sistem sosial bukanlah pekerjaan mudah. Hal ini didasarkan pada dua hal. Pertama, interaksi kompleks yang terlibat dalam sistem sosial berarti bahwa hasil dari pemodelan tersebut sulit untuk dianalisis dengan menggunakan pendekatan biasa (kompleksitas sintaktik). Kedua, karakteristik dari fenomena sosial seringkali lebih baik didekati denganrepresentasi semantik alias pendekatan secara kualitatif biasa. Persoalannya adalah hal ini sangat sulit untuk diterjemahkan dalam metode formal, sehingga mengakibatkan kesulitan melakukan pengecekan dengan teori yang sudah ada selama ini.
Dalam ilmu alam, masalah seperti ini tentu sangat mudah untuk diatasi. Model yang dibangun dapat berbentuk simulasi. Simulasi menangkap struktur perilaku yang ada di obyek yang diamati untuk kemudian diujicobakan ke 'miniatur-miniatur' yang dibuat agar dapat menjelaskan fenomena yang terjadi. Contohnya adalah upaya manusia dengan berbagai bangunan geometri matematika seperti bola, lingkaran, balok, dan sebagainya yang dianggap sebagai struktur bentuk di alam. Bumi kita katakan berbentuk bola, kotak kita anggap berbentuk balok, lintasan peluru dikatakan berbentuk parabola, dan seterusnya. Simulasi adalah suatu bentuk model di mana kita dapat mencobakan/bereksperimen sedemikian hingga dapat mengetahui struktur yang ada di obyek nyata yang dianalisis.
Bagaimana cara mengetahui apakah sebuah gedung besar sudah tahan terhadap gempa? Apakah kita membangun sebuah bangunan besar lalu menanti gempa datang untuk mengetahui kekuatannya? Tentu tidak! Kita membuat bangunan dengan konstruksi semirip mungkin dengan bangunan yang hendak kita bangun. Tentu tak harus bangunan yang besarnya sama dengan yang kita bangun, kita bisa membuat miniatur yang konstruksinya sama. Lalu kita simulasikan dengan membuat getaran yang kira-kira mirip atau sama dengan gempa, apakah ledakan, apakah dorongan, dan seterusnya. Dari sini kita tahu apakah bangunan yang akan kita bangun dengan konstruksi yang sudah diujikan tersebut seberapa kuat jika dilanda gempa.
Tentu ini sangat berbeda dengan model yang menggunakan statistika. Kita lihat gambar di bawah ini, tentang alur logis pemodelan dengan pengolahan dan pengumpulan data dan dengan simulasi.
 
   
 
 
   
 
 

























ROBERT AXELROD, The Complexity of Cooperation: Agent-Based Models of Competition and Colaboration, Princeton University Press, 1997.
T. S. SMITH, G. T. STEVENS, "Emergence, Self-Organization, and Social Interaction: Arousal-Dependent Structure in Social Systems", Sociological Theory 14(2):131-153, 1996.
STEVEN LEVY, Artificial Life: A Report from the Frontier Where Computers meet Biology, Vintage, 1992.
Bagaimana alur di atas dalam praktik analisis sosialnya?
Dalam melakukan simulasi sosial, yang harus kita ingat dalam melakukan hal tersebut adalah kita harus berhati-hati dalam membuat model dari fenomena sosial yang kita amati. Kita harus dapat membatasi masalah berdasarkan aspek dan perspektif yang kita amati. Hal ini sangat penting karena sangat mungkin orang akan membuat model dari aspek dan perspektif yang berbeda terhadap sebuah masyarakat. Selain itu, konteks masalah yang kita amati juga harus jelas karena sangat mungkin orang menggunakan istilah yang sama untuk konteks yang berbeda. Namun satu hal yang pasti, kita dapat memecahkan suatu fenomena sosial dengan jauh lebih baik ketika kita menggunakan sebanyak mungkin aspek dan perspektif, meskipun aspek dan perspektif tersebut kontradiktif.
Pemodelan dan simulasi selalu diawali dengan ketertarikan kita pada suatu fenomena di dunia nyata. Fenomena ini kita namakan target. Tujuan selanjutnya adalah membuat model dari fenomena (target) tersebut, yang lebih sederhana dibandingkan dengan fenomena tersebut.
Dalam model statistika, peneliti mengembangkan sebuah model melalui suatu abstraksi dari suatu perkiraan tentang proses sosial yang terjadi. Pada metode ini, biasanya model yang dikembangkan berupa persamaan-persamaan matematis atau uraian-uraian kualitatif tentang suatu hal. Selanjutnya seorang peneliti haruslah mengumpulkan beberapa data yang akan digunakan untuk melakukan estimasi. Analisis yang dilakukan selanjutnya terdiri dari : pertama, peneliti akan membandingkan apakah prediksi yang dihasilkan oleh model memiliki kemiripan dengan data aktual yang didapat. Kedua, peneliti mengukur besar dari parameter dan membandingkan besar tersebut untuk mengidentifikasi parameter terpenting.
Untuk membuat simulasi sosial, seperti pada model statistika, seorang peneliti juga membangun suatu model dengan berasumsi pada perkiraan proses sosial yang ada. Namun berbeda dengan model statistik yang cenderung menggunakan persamaan matematis, model yang dibangun didasarkan pada program komputer - alur kerja, urut-urutan dari proses sosial tersebut. Program tersebut kemudian disimulasikan, yang berarti dijalankan pada komputer, dan hasil yang didapat diamati. Model yang didapat digunakan untuk memperoleh data hasil simulasi. Data hasil simulasi ini kemudian dibandingkan dengan data yang didapat dari lapangan untuk dicek apakah model yang dibangun menghasilkan output yang mirip dengan kondisi sebenarnya.
Kedua metode ini dapat digunakan untuk menjelaskan dan memprediksi fenomena sosial yang ada. Namun meskipun terdapat banyak kesamaan antara dua metode ini, terdapat perbedaan yang sangat besar diantara keduanya. Bila model statistik bertujuan untuk menjelaskan hubungan antara variabel yang terukur pada satu waktu tertentu, simulasi sangat memperhatikan keseluruhan proses yang terjadi. Dalam simulasi, dapat diperoleh penjelasan yang eksplisit tentang proses yang terjadi pada fenomena sosial yang dimodelkan. Hal yang kontras terjadi pada pemodelan secara statistik, yaitu pada metode ini akan dihasilkan pola dari hubungan-hubungan antara variabel yang diukur, namun dia tidak dapat memodelkan mekanisme yang mendasari hubungan-hubungan tersebut. 

Rabu, 11 Juli 2012

history


Sejarah

Informasi lebih lanjut: Sejarah astronomi dan Definisi planet
Lihat juga: Timeline astronomi tata surya


Dicetak rendition dari sebuah model kosmologi geosentris dari Cosmographia, Antwerpen, 1539
Ide planet telah berkembang selama sejarahnya, dari bintang-bintang mengembara ilahi kuno ke objek duniawi zaman ilmiah. Konsep ini telah diperluas untuk mencakup dunia tidak hanya di tata surya, tetapi dalam ratusan sistem ekstrasurya lain. Ambiguitas yang melekat dalam mendefinisikan planet telah menyebabkan kontroversi ilmiah banyak.
Lima planet klasik, yang dapat dilihat dengan mata telanjang, telah dikenal sejak zaman kuno, dan memiliki dampak signifikan terhadap mitologi, agama kosmologi, dan astronomi kuno. Pada zaman kuno, para astronom mencatat bagaimana lampu tertentu bergerak melintasi langit dalam kaitannya dengan bintang lain. Yunani kuno disebut lampu ini πλάνητες ἀστέρες (planetes asteres "bintang pengembara") atau hanya "πλανήτοι" (planētoi "pengembara"), [11] dari mana kata hari ini "planet" berasal. [12] [13] Di Yunani kuno, Cina, Babel dan memang semua pra-modern peradaban, [14] [15] itu hampir secara universal percaya bahwa Bumi berada di tengah alam semesta dan bahwa semua "planet" melingkari Bumi. Alasan persepsi ini adalah bahwa bintang dan planet muncul berputar mengelilingi bumi setiap hari, [16] dan persepsi tampaknya masuk akal bahwa Bumi yang solid dan stabil, dan bahwa hal itu tidak bergerak tetapi pada istirahat.
[Sunting] Babel
Artikel utama: Babel astronomi
Peradaban pertama yang diketahui memiliki teori fungsional dari planet adalah Babilonia, yang tinggal di Mesopotamia dalam SM milenium pertama dan kedua. Teks tertua astronomi planet adalah Babilonia Venus tablet Ammisaduqa, satu abad 7 SM salinan dari daftar pengamatan gerakan planet Venus, yang mungkin berasal pada awal milenium kedua SM. [17] MUL.APIN adalah sepasang runcing tablet yang berasal dari abad ke-7 SM yang menjabarkan gerakan Matahari, Bulan dan planet-planet selama tahun. [18] astrolog Babel juga meletakkan dasar dari apa yang akhirnya akan menjadi astrologi Barat. [ 19] Elish anu Enlil, yang ditulis selama periode Neo-Asyur di abad ke-7 SM, [20] terdiri dari daftar pertanda dan hubungan mereka dengan berbagai fenomena langit termasuk gerakan planet. [21] [22] Venus, Merkurius dan planet-planet luar Mars, Jupiter dan Saturnus semua diidentifikasi oleh para astronom Babilonia. Ini akan tetap hanya planet diketahui sampai penemuan teleskop di zaman modern awal. [23]
[Sunting] Yunani-Romawi astronomi
Lihat juga: astronomi Yunani
Ptolemy 7 planet bola
1
Bulan
2
Air raksa
3
Venus
4
Matahari
5
Mars
6
Jupiter
7
Saturnus

Orang Yunani kuno awalnya tidak menganggap penting banyak untuk planet-planet sebagai Babel. Pythagorean, pada abad ke-6 dan ke-5 SM tampaknya telah mengembangkan teori sendiri planet mereka independen, yang terdiri dari Bumi, Matahari, Bulan, dan planet-planet berputar di sekitar sebuah "Api Tengah" di pusat alam semesta. Pythagoras atau Parmenides dikatakan telah menjadi orang pertama yang mengidentifikasi bintang malam dan bintang pagi (Venus) sebagai satu dan sama [24] Pada abad ke-3. SM, Aristarchus dari Samos mengusulkan sistem heliosentris, yang menyatakan Bumi dan planet-planet berputar mengelilingi matahari. Namun, sistem geosentris akan tetap dominan sampai Revolusi Ilmiah.
Pada abad ke-1 SM, selama periode Helenistik, bangsa Yunani mulai mengembangkan skema mereka sendiri matematika untuk memprediksi posisi planet. Skema ini, yang didasarkan pada geometri daripada aritmatika dari Babel, akhirnya akan gerhana teori Babel 'dalam kompleksitas dan kelengkapan, dan account untuk sebagian besar gerakan astronomi diamati dari Bumi dengan mata telanjang. Teori-teori ini akan mencapai ekspresi penuhnya dalam Almagest yang ditulis oleh Ptolemy dalam abad ke-2 Masehi. Jadi lengkap adalah dominasi model Ptolemy bahwa digantikan semua karya-karya sebelumnya tentang astronomi dan tetap teks astronomi yang pasti di dunia Barat selama 13 abad. [17] [25] Untuk orang-orang Yunani dan Romawi ada tujuh planet yang dikenal, masing-masing dianggap akan mengitari bumi menurut hukum kompleks ditata oleh Ptolemy. Mereka, secara berurutan dari Bumi (dalam urutan Ptolemy):. Bulan, Merkurius, Venus, Matahari, Mars, Jupiter, dan Saturnus [13] [25] [26]
[Sunting] India
Artikel utama: India astronomi dan kosmologi Hindu
Pada 499 CE, Aryabhata astronom India dikemukakan model planet yang secara eksplisit dimasukkan rotasi bumi pada porosnya, yang menjelaskan sebagai penyebab apa yang tampaknya menjadi sebuah gerakan ke arah barat tampak dari bintang-bintang. Dia juga percaya bahwa orbit planet adalah elips. [27] pengikut Aryabhata itu terutama sangat kuat di India Selatan, di mana prinsip-prinsipnya dari rotasi diurnal bumi, antara lain diikuti dan sejumlah karya sekunder didasarkan pada mereka. [28]
Pada 1500, Nilakantha Somayaji dari sekolah Kerala astronomi dan matematika, di Tantrasangraha nya, direvisi Model Aryabhata itu. [29] Dalam Aryabhatiyabhasya, sebuah komentar pada Aryabhatiya Aryabhata, ia mengembangkan sebuah model planet dimana Merkurius, Venus, Mars, Jupiter dan Saturnus mengorbit Matahari, yang pada gilirannya mengorbit Bumi, mirip dengan sistem Tychonic kemudian diusulkan oleh Tycho Brahe pada abad 16-an. Kebanyakan astronomers dari sekolah Kerala yang mengikutinya diterima Model planet itu. [29] [30]
[Sunting] astronomi Muslim Abad Pertengahan
Artikel utama: Astronomi dalam Islam abad pertengahan dan kosmologi Islam
Pada abad 11, yang transit Venus diamati oleh Ibnu Sina, yang menetapkan bahwa Venus, setidaknya kadang-kadang, di bawah Matahari. [31] Pada abad 12, Ibnu Bajjah mengamati "dua planet seperti flek hitam di wajah Sun, "yang kemudian diidentifikasi sebagai transit Merkurius dan Venus oleh astronom Maragha Qotb al-Din Syirazi di abad ke-13 [32]. Namun, Ibnu Bajjah tidak bisa mengamati transit Venus, karena tidak ada terjadi pada masa hidupnya . [33]
[Sunting] Eropa Renaissance
Renaissance planet, ca. 1543-1781
1
Air raksa
2
Venus
3
Bumi
4
Mars
5
Jupiter
6
Saturnus

Lihat juga: heliocentrism
Dengan munculnya Revolusi Ilmiah, pemahaman tentang "planet" istilah berubah dari sesuatu yang bergerak melintasi langit (dalam hubungannya dengan bintang lapangan), untuk tubuh yang mengorbit bumi (atau yang diyakini melakukannya pada saat itu ), dan pada abad 16 untuk sesuatu yang langsung mengorbit Matahari ketika model heliosentris dari Copernicus, Galileo dan Kepler memperoleh kekuasaan.
Jadi Bumi menjadi termasuk dalam daftar planet, [34] sementara Matahari dan Bulan dikeluarkan. Pada awalnya, ketika satelit pertama dari Jupiter dan Saturnus yang ditemukan pada abad ke-17, istilah "planet" dan "satelit" yang digunakan secara bergantian -. Meskipun yang terakhir secara bertahap akan menjadi lebih umum pada abad berikut [35] Hingga pertengahan ke-19 abad, jumlah "planet" naik dengan cepat karena setiap objek yang baru ditemukan langsung mengorbit Matahari tercatat sebagai planet oleh komunitas ilmiah.


Planet

Planet-benda berukuran untuk skala:
Baris atas: Uranus dan Neptunus;
kedua baris: Bumi, putih kerdil bintang Sirius B, Venus;
baris bawah (direproduksi dan diperbesar pada gambar bawah) - di atas: Mars dan Merkurius;
di bawah ini: Bulan, planet kerdil Pluto dan Haumea
Sebuah planet (dari αστήρ Kuno πλανήτης Yunani (Aster planētēs), yang berarti "bintang pengembara") adalah benda angkasa yang mengorbit sebuah bintang atau sisa bintang yang cukup besar untuk dibulatkan oleh gravitasinya sendiri, tidak cukup besar untuk menyebabkan fusi termonuklir, dan telah membersihkan daerah sekitarnya dari planetesimal [a]. [1] [2] Planet istilah kuno, yang memiliki hubungan dengan sejarah, ilmu pengetahuan, mitologi, dan agama. Planet-planet awalnya dilihat oleh budaya awal sebanyak ilahi, atau sebagai utusan dewa. Sebagai pengetahuan ilmiah maju, persepsi manusia dari planet berubah, menggabungkan sejumlah objek yang berbeda. Pada tahun 2006, International Astronomical Union (IAU) secara resmi menyetujui sebuah resolusi mendefinisikan planet dalam Tata Surya. Definisi ini telah baik dipuji dan dikritik, dan tetap diperdebatkan oleh beberapa ilmuwan karena tidak termasuk benda banyak massa planet berdasarkan di mana atau apa yang mereka orbit. Sementara delapan dari badan-badan planet ditemukan sebelum tahun 1950 tetap "planet" di bawah definisi modern, beberapa benda langit, seperti Ceres, Pallas, Juno, Vesta (masing-masing objek di sabuk asteroid Surya) dan Pluto (pertama menemukan trans-Neptunian objek), yang pernah dianggap planet oleh komunitas ilmiah tidak lagi dipandang seperti itu.
Planet-planet dianggap oleh Ptolemy untuk mengorbit bumi dalam gerakan relatif kecil dan epicycle. Meskipun ide bahwa planet-planet mengorbit Matahari telah diusulkan berkali-kali, tidak sampai abad ke-17 bahwa pandangan ini didukung oleh bukti dari pengamatan astronomi pertama teleskopik, dilakukan oleh Galileo Galilei. Dengan analisis yang cermat terhadap data observasi, Johannes Kepler menemukan orbit planet-planet 'menjadi tidak melingkar, tapi elips. Sebagai alat pengamatan ditingkatkan, para astronom melihat bahwa, seperti Bumi, planet-planet berputar di sekitar sumbu miring, dan beberapa fitur seperti bersama sebagai es dan musim. Sejak awal Zaman Space, observasi dekat probe telah menemukan bahwa bumi dan karakteristik saham lainnya planet seperti gunung api, angin topan, tektonik, dan bahkan hidrologi.
Planet umumnya dibagi menjadi dua jenis utama: besar, raksasa gas kepadatan rendah, dan lebih kecil, terrestrials berbatu. Di bawah definisi IAU, ada delapan planet dalam Tata Surya. Dalam rangka meningkatkan jarak dari Matahari, mereka adalah empat terrestrials, Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars, maka empat raksasa gas, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Enam dari planet mengorbit oleh satu atau lebih satelit alami. Selain itu, Tata Surya juga mengandung setidaknya lima planet kerdil [3] dan ratusan ribu badan Tata Surya kecil.
Sejak tahun 1992, ratusan planet di sekitar bintang lain ("planet ekstrasurya" atau "eksoplanet") di Galaksi Bima Sakti telah ditemukan. Pada 5 Juli 2012, 777 planet ekstrasurya yang diketahui (dalam 624 sistem planet dan 101 sistem planet ganda) tercantum dalam Ensiklopedia Planet Luar Tata Surya, mulai dari ukuran bahwa planet-planet mirip dengan Bumi dengan yang gas raksasa lebih besar dari Jupiter. [4] Pada tanggal 20 Desember 2011, Space Telescope Kepler tim melaporkan penemuan Bumi-ukuran planet ekstrasurya pertama, Kepler-20e [5] dan Kepler-20F, [6] yang mengorbit bintang seperti Matahari, Kepler-20 [7]. [8] [9] Sebuah penelitian 2012, menganalisis data microlensing gravitasi, memperkirakan rata-rata minimal [79]
d Seperti Pluto, apabila dekat perihelion, suasana sementara diduga.
[Sunting] ekstrasurya planet